Ayah... Oase di Tengah Padang Gurun

April 30, 2017



Judul buku : Ayah, Kisah Buya Hamka
Penulis : Irfan Hamka
Penerbit : Republika
Cetakan : XI, April 2016
Halaman : xxviii + 324 halaman
Dimensi Buku : 13.5 x 20.5 cm
Harga Buku : Rp 49.000,00


Seperti oase di tengah padang gurun, menyejukkan. Itulah kesan saya terhadap sosok ayah, saat membaca buku ini. Namanya kerap tertulis dan tidak asing di negeri ini. Lahir di Sumatera Barat, 17 Februari 1908. Meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981, di usia 73 tahun. Ia adalah pejuang, ulama, sastrawan, cendikiawan sekaligus politikus yang humanis. Orang mengenalnya dengan Buya Hamka. Buya artinya ayah atau gelar ulama. Hamka yang berarti H. Abdul Malik Karim Amrullah.

Buku ini ditulis oleh putra kelima dari Buya Hamka. Kenangan peristiwa sepanjang 33 tahun bersama sang ayah, mengajak kita mengenal lebih dekat, sosok Buya Hamka.

Keteguhan Hati
Hamka kecil mengeyam pendidikan formal di Sekolah Desa selama tiga tahun. Itu pun tidak tamat. Ia merasa selalu dilecehkan oleh anak-anak yang berasal dari keluarga golongan menengah maupun atas. Di usia dua belas tahun, orangtuanya bercerai. Perceraian itu hampir membuatnya kehilangan arah. Namun, keteguhan menjadi manusia berguna, terpatri dalam hatinya. Hal itu tak menyurutkan langkahnya untuk terus belajar. Di umur 13 tahun, ia membulatkan tekad untuk merantau ke Jawa, belajar dari tokoh-tokoh besar sejarah bangsa ini, dan memperdalam ilmu di Mekkah, saat berusia 19 tahun.

Bicara dengan Bekerja
Tahun 1963-1965 terjadi serangan gencar terhadap tokoh-tokoh yang bersebrangan dengan komunis. Pramoedya A. Toer adalah sastrawan yang paling lantang menyerang Hamka. Hamka tenang menganggapi. Bicara dengan bekerja. Itulah pesan seorang Buya Hamka, saat didera berbagai fitnah.

Akhlaq Seorang Muslim
Keikhlasannya menjalankan pesan terakhir Soekarno yang meminta kesediaannya untuk menjadi imam sholat jenazah, sesaat sebelum  Soekarno wafat.  Kelapangan hatinya menuntun Moh. Yamin, orang yang berseberangan dengan dirinya, menghadapi sakaratul maut dan mengantarnya ke liang lahat. Kebesaran jiwanya menjadi guru untuk calon menantu Pramoedya A. Toer, yang ingin mempelajari Islam. Betapa Hamka, telah meneladani akhlaq Rasulullah.

Berdzikir sepanjang waktu
Perjalanan panjang haji. Cerita menegangkan, namun sarat hikmah. Irfan Hamka, tidak pernah melihat ayahnya lepas mengaji dan dzikir selama hidup. Begitu pun dalam perjalanan maut saat menghadiri lawatan ke Negeri 1001 Malam. Guncangan dahsyat pesawat di udara kosong, badai gurun pasir dan air bah di gunung granit, dihadapi sang ayah dengan terus berdzikir. Mereka selamat. Semua takjub mendengar kisah mereka, melewati kekejaman gurun pasir dari Baghdad ke Mekkah, yang mengerikan. Allah menjaga orang-orang shalih.

Allah,  Allah... dan Allah 
Ketika sang istri meninggal, tidak mudah melupakan seseorang yang telah mendampingi selama 49 tahun, dalam suka dan duka. Hamka melantunkan syair jika teringat sang belahan jiwa. Namun ketika kesedihan terus merasuki relung kalbu, ia mengambil wudhu, lalu sholat taubat. Betapa ia tidak ingin kecintaan terhadap istrinya melebihi cintanya kepada Allah. Untuk menghibur hatinya, ia akan membaca Al Quran terus menerus hingga tertidur. Beginilah orang shalih menjaga hatinya.


Recommended. Buku ini hadir, di tengah berbagai permasalahan bangsa yang sedang bertumbuh. Layaknya oase di tengah gurun luas, menyejukkan. Kekurangannya, penulis seharusnya bisa lebih tajam mengeksplore sosok Hamka dan pemikirannya. Over all, bagus!


You Might Also Like

0 comments