Escape KL, Keliling Melaka Part 1

October 08, 2017

Sekitar pukul 09.30, kami tiba di Melaka Sentral. Melaka Sentral adalah terminal terbesar di kota Melaka. Tidak banyak yang berubah sejak tahun 2015, kecuali area parkir yang bertambah luas dan ruang tunggu yang lebih rapi. 

Brunch di Melaka Sentral
Kami memutuskan untuk brunch di Melaka Sentral, mengingat harga di sini lebih murah dibanding lokasi wisata kota tua Melaka. Ini namanya, bijak membelanjakan uang #hihi. Karena ingin makan yang berkuah segar, kami memilih resto Thai Tomyam dan Nasi Ayam Famosa. Tempat ini bersebrangan dengan resto India yang enak, banyak dan murah itu #hehehe. Hampir semua restoran di Melaka Sentral halal, ya.
Restoran Thai Tomyam dan Nasi Ayam Famosa
Suasananya masih sepi, karena baru buka. Harga seporsi Tomyam + Nasi RM 6.51 dan Air Mineral RM 1.41. Rasanya enak, tapi masih lebih murah di restoran India #hehe. Selain kuliner asia, kita bisa temukan McD, Subway dan restro cepat saji lainnya di Malaka Sentral. 

Toko Pastries di Melaka Sentral
Setelah makan, kami menuju toko pastries enak versi backpacker dengan harga bersahabat dan porsi besar #penting. All variant using gluten flour, hihi. Tidak apalah, sesekali. Satu buah Croissant seharga RM 1.60, Chocolate Cup Cake RM 2.30 dan Chocolate Cake RM 4.40. Cadangan amunisi selama di kota tua Melaka pun aman. Kami menginap di Jonker Street, jadi agak sulit untuk mencari makanan halal. Ada sih, tetapi tidak banyak.
Toko Pastries Lot No. 24 Zone B, Terminal Malaka Sentral
Bus Panorama No. 17
Untuk menuju Bangunan Merah a.k.a Stadthuys dari Melaka Sentral kamu bisa naik Bus Panorama No. 17. Tiketnya RM 1.50 - 2.00 dibayarkan langsung ke supir. Setelah dapat tiket, kamu bebas duduk dimana saja. Bus ini tiba, setiap 30 menit sekali. 

Sambil menunggu, kami membeli tiket tujuan Melaka Sentral - TBS (Terminal Berpadu Selatan) seharga RM 12.00/adult untuk besok kembali ke KL. Nama bisnya Mayang Sari. Psst, Mbak Mayang Sari terkenal, di sini. Untuk pemberangkatan jam-jam tertentu, tiket ke KL cepat habis. Disarankan untuk membeli H-1, jika kita ingin perjalanan sesuai dengan itinerary yang sudah dibuat. 


Banguan Merah Bersejarah
Sebelum tiba di Stadthuys, kita akan di ajak melewati barisan bangunan-bangunan tua, dengan dominasi arsitektur bangunan belanda dan ornament China. Bangunan Stadthuys terletak di sebelah Gereja Christ. Nama Stadthuys berasal dari bahasa Belanda, Stad yang berarti kota dan Huis berarti rumah. Jadi,  Stadthuys adalah balai kota Melaka di jaman kolonial Belanda. Dibangun pada tahun 1650 sebagai kantor Gubernur Jenderal kala itu. Warga Melaka menyebutnya Bangunan Merah. 
Gereja Christ bersebelahan dengan Stadthuys
Bus Panorama berhenti tepat di depan Red Square a.k.a Bangunan Merah. Matahari yang terik, tidak membuat traveler urung berfoto-foto di area ini. Sewa becak atau sepeda, bisa menjadi pilihan untuk mengelilingi kota tua. Tapi, untuk detail spot tempat wisata, berjalan a.k.a mengesot memutari area kota tua Melaka adalah pilihan terbaik. Lumayan pegel tapi puas. Kaca mata hitam, topi, sepatu/sendal, air minum dan bahan baju dari kaos/katun wajib dipakai jika ingin survive di tempat yang sangat terik ini. Salah kostum, bisa membuat kamu tersiksa.
Air Mancur Victoria, Maret 2015
Terasa lebih sejuk jika mengitari kota tua ini di pagi atau sore menjelang malam hari. Untuk kualitas gambar terbaik, bisa kamu dapatkan saat menjelang siang atau menjelang sore hari. Beruntung jika langitnya biru dan bersih. Dua kali saya ke sini, trip terkahir langitnya lebih biru. Kalau panasnya, tetap sama. 
Jam Menara, 2015
Di seberang menara ini, ada spot kincir angin khas belanda. Kalau dapat angle-nya, miriplah sama foto di Belanda #maksa, hehehe. Kamu juga akan menemukan Jonker street di seberangnya. Kami menuju Hangout Hotel, lalu menitipkan tas karena belum bisa check in. Kami melirik matahari yang berada tepat di atas kepala, panasnya benar-benar menusuk kulit, setelah berpikir... akhirnya memutuskan ngadem di H&M yang persis di depan hotel, terus lanjut ke Mall Mahkota Parade. Ujung-ujungnya ke mall #haha. Cari yang adem dan double extra benefit-nya a.k.a buka jastip, haha. Setelah itu kami check in dan sholat. Perjalanan lanjut mencari kuliner, kami berhenti di Mamee Jonker House, satu restoran halal di Jonker Street. Setelah itu kami melangkah menuju St. Paul Hills, tempat favorit saya, menatap dari ketinggian. Karena kalau menyelami kedalaman hati, terlalu rumit #hyaah.

St. Paul's Church
Untuk menuju ke St. Paul's Church, kita harus naik ke St. Paul Hills. Lumayanlah, bakar kalori. Paling enak sih barefoot, yak. Sampai di atas bukit, terbayar dengan sejuk pepohonan, semilir angin dan pemandangan kota tua Melaka. 
Tangga menuju St. Paul
Di atas ada sebuah gereja bernama St. Paul's Church, dibangun pada tahun 1521. Gereja ini adalah gereja tertua di Malaysia dan Asia Tenggara. Tak hanya dikenal sebagai bekas peninggalan dan tempat peribadatan sejak berabad-abad silam. Saint Paul juga menyimpan cerita tentang sosok pendeta Francis Xavier. 
Patung Pendeta Xavier
Meski tak melakukan penyebaran agama Kristiani di Melaka secara langsung, nama pendeta ini terselip dalam bagian sejarah portugis di Melaka. Dari artikel yang saya baca, Francis Xavier bersama Santo Ignatius Loyola pendiri orde Jesuit (khatolik roma), memang lebih kuat menyebarkan agama Kristiani di wilayah Indonesia Timur (Ambon, Ternate dan Moro) dibandingkan Melaka. Sembilan bulan setelah kematiannya, jenazah  Xavier konon tak cacat sedikit pun saat tubuhnya hendak dipindah dari pemakaman di gereja St. Hill  ke Goa, India. 

Petinggi gereja Saint Paul kemudian sepakat menjadikan Xavier sebagai sosok suci atau Santo dalam istilah agama Katolik, karena menganggap dia telah mengkristenkan lebih banyak orang dibanding siapapun semenjak Santo PaulusPada 1614, pusat ajaran agama Katolik di Roma memutuskan memotong lengan kanan jenazah Xavier untuk mengenang sosoknya -yang semasa hidup- berjuang menyebarkan agama kristiani di wilayah asia, hingga Jepang dan China. Konon, tangannya di abadikan di Roma. Woww...

Di waktu yang sama saat lengan kanan jenazah Xavier dipotong, secara tak sengaja, lengan kanan patung Xavier pun patah tertimpa pohon, saat patungnya didirikan. Sampai sekarang patung pendeta Francis Xavier masih berdiri tegak, walaupun salah satu lengannya terpotong. Konon, tak diketahui dimana keberadaan potongan patung tangan kanannya sekarang. Strange tapi itulah sepenggal kisah dari St. Paul Chruch.

Next story on Keliling Melaka Part 2

You Might Also Like

2 comments

  1. Aku penasaran pingin Malaka.. Semoga dalam waktu dekat bisa ke sana.. :D Di Jonker Street jarang makanan halal ya mba? Ada rekomendasi makanan halal di sanakah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di Kota Tua Melaka banyak, Mbak. Khusus di Jonker Street, yang kami lihat ada label halalnya ada beberapa, jadi harus bertanya dulu dan mereka dengan senang hati menjelaskan. Kemarin hanya sempat makan di Mamee Jonker House Restaurant dan Restoran Ayam Hainan di samping Hotel Hangout Jonker. Menu rekomendasinya Laksa, Chicken Rice Ball dan Ayam Hainan. Enak :)

      Delete