Escape KL, Heading to Airport

October 04, 2017



If I waited until I felt like writing, I would never write at all - Anne Tyler. 

Saya memiliki sebuah hutang janji. Janji dan komitmen suci untuk menuliskan setiap perjalanan saya di blog ini, just because sharing will enrich us with more knowledge. Katanya sih mau jadi travel writer, tapi jarang update blog #meh. Tak sedikit yang menggugat janji saya, haha. Tapi masalahnya, karena terlalu lama dan kehidupan terus berjalan dengan berbagai tempaannya, saya jadi have no idea mau nulis apa #toyorkepalasendiri. Butuh meditasi.

Akhirnya, perpustakaan terpilih sebagai tempat untuk menata kembali serpihan hati ingatan, yang terserak #jiaah. Ternyata di sini saya tak sendiri menatap layar kosong tanpa ada kata tercipta. Lelaki di samping saya resah menatap layar laptopnya. Tumpukan buku dan paper tergeletak sempurna di sampingnya. Hampir memenuhi area meja saya #sabar. Keyboardnya berbunyi, lantas hening. Jemarinya merangkai kata, lalu terhenti. Gelisah. Dia beranjak, menatap hijau pepohonan dan riak danau di balik jendela. Hujan. Tetesan air mengalir perlahan membasahi kaca. Lama. Ia kembali duduk. Matanya terpaku menatap layar. Berpikir keras. Hingga akhirnya menyerah, menyandarkan punggung di kursi. Ada desahan nafas panjang terdengar. Berat sekali beban hidupmu, anak muda!.

Escape Plan
Rencana ini sebenarnya sudah lama, tapi sulit untuk menemukan waktu yang cocok. Setelah dapat kesempatan, langsung eksekusi, haha. Karena jatah izin kabur sangat singkat, saya memutuskan untuk explore negara terdekat. Perjalanan ini tidak sendiri, saya bersama lady boss a.k.a kakak kedua. Seumur-umur, kita belum pernah ngetrip bareng, haha. Akur, yak? Oh, tentu tidak. Perdebatan itu sungguh nyata. Saya mau ke Penang. Dia mau ke Melaka. Dia sudah pernah ke Penang. Saya sudah pernah ke Melaka. Tapi, kita belum pernah ke Genting Highland. Setelah perdebatan panjang dan jarak Penang yang jauh, Melaka dan Genting Highland diputuskan sebagai destinasi yang akan dikunjungi #ngalah. Ditambah sedikit explore city di Kuala Lumpur. 

Heading to Airport
Sabtu ba'da zuhur, saya menuju bandara. Setelah sehari semalam di depan oven menyelesaikan pesanan. Sebelum itu, saya jadwalkan untuk mengantar paket ke JNE yang sekaligus one way dengan shelter bus menuju bandara. Tiba-tiba, hujan deras turun. Basah kuyup, sudah pasti. Tidak membawa payung, seorang wanita dihujani kenangan masa lalu #bwahaha. Yes, the journey begins

Setelah tiba di JNE, saya berdiri lama untuk memeras dan mengibaskan kenangan air yang singgah di hati selama perjalanan tadi. Tugas selesai. Tanpa menunggu reda, langsung lanjut menuju shelter bus yang tak jauh dari sana. Selama perjalanan menuju bandara, tiga packs persediaan tissue habis untuk membuat pakaian saya menjadi lebih kering. 

Tiba di bandara, saya mencari lokasi meeting point. Whats App isinya "loe di mana, sih?" atau "loe, yang di mana?". "Lha, udah di sini dari tadi" atau "Ini juga udah di sini". Kami sama-sama menunggu di A&W. Bedanya, saya di dalam. Kakak saya di luar terminal keberangkatan. Bagus. Kenapa harus A&W yang counternya ada dua? harusnya cari yang satu, dan tidak mendua #hyaah.

After dinner, kita check in. Sempat beli tissue, karena habis. Satu pack kecil dihargai sepuluh ribu #sigh. Memahami aturan main, terpaksa ikhlas membeli dengan untaian do'a panjang karena terdzholimi, hihihi. Allah... berilah kemudahan kami, untuk kembali ke tanah haram-Mu, menunaikan ibadah haji. Berilah keberkahan kami dalam menjalani proses dan juga setelahnya. Sadar, jika do'a terbaik bukan untuk diri sendiri, maka redaksionalnya dirubah untuk penjaga dan pemilik counternya, hihi. Amiin ya mujibassailin. Panjang, yak? 

Saat di imigrasi ditanya sama petugas, ada keperluan apa ke KL. Saya jawab "Nak, survey gaji TKW, kalau lebih besar, bolehlah awak pindah" #hoho. Antriannya panjang, high season karena long weekend. Di ruang boarding pun hanya segelintir kursi tersisa. Ramai sekali. 

Menjelang tengah malam, Singa Merah pun melesat melitasi awan tanpa drama delay. Semua berjalan sesuai rencana. Alhamdulillah.

Jika kita bisa tenang naik pesawat tanpa mengenal pilotnya. Lalu kenapa masih selalu resah menjalani hidup, padahal tahu Allah yang mengatur segalanya. Let's take adventures!

Next story on Bermalam di KLIA 2.

You Might Also Like

0 comments