Escape KL, Keliling Melaka Part 2

November 30, 2017

St. Paul's Church 
Lepas dari anak tangga, kamu bisa melihat bangunan gereja tertua di Asia Tenggara ini. Dari atas bukit, terlihat landscape kota tua Melaka dan pelabuhan. Kalau mau melihat lebih tinggi lagi, kamu bisa naik Taming Sari Tower. Tiketnya sekitar RM 20.00 s.d 30.00 per adult. Lupa perisnya. 

Sejarah Kedatangan Portugis, St. Paul's Church dan A Famosa
Portugis adalah bangsa eropa pertama yang berhasil menjelajah asia, hingga Jepang dan China. Pelaut muslim Granada - Spanyol dan Afrika Barat sebenarnya telah menjelajah berbagai benua-benua jauh sebelum bangsa eropa melakukan penjelajahan samudra. 

Karena menyadari betapa mahal harga rempah-rempah dan pentingnya jalur perdagangan Eropa - Asia, Portugis melakukan penjelajahan dengan menaklukan titik-titik crusial jalur perdagangan sekaligus melakukan misi penyebaran agama.  Tahun 1510 Portugis berhasil menaklukan Goa di India. Dari Goa, penjelajahan berlanjut ke arah Timur. Sasarannya Melaka hingga ujung perdagangan yang paling crusial dan potensial, yaitu Maluku. Tahun 1511 Malaka jatuh ke tangan portugis dibawah pimpinan Alfonso de Albuquerque. Ini nama familiar banget di buku sejarah, yak. Pendahulunya ada juga Bartholomeus Diaz dengan Taunjung Harapan dan Vasco da Gama dengan Calcutanya. Bener nggak, ini? Seratus tahun kemudian, Belanda dan Inggris menyusul. 

Setelah berhasil menguasai Malaka, Portugis membangun benteng Fortaleza de Malaca yang memiliki 4 gate: Porta de Santiago, The gateway of the Custom House Terrace, Porta de São Domingos, Porta de Santo António. Benteng tersebut sudah hancur, tanpa bekas. Hanya satu reruntuhan tertinggal yaitu Porta de Santiago, yang dikenal dengan A Famosa. Setelah benteng berdiri, di atas bukit yang paling tinggi ini dibangunlah sebuah gereja. Tempat ini dikenal sebagai St. Paul Hill dan St. Paul's Church. 
Inside St. Paul's Church, 2015 
What's in the St. Paul's Church?
Di dalamnya ada tombstones dan sumur air yang sudah kering. Pertama kesini, kirain prasasti. Ternyata batu nisan. Dulu, di dalam gereja ini ada beberapa kuburan, tapi sudah dipindahkan. Jadilah, batu nisannya disandarkan begitu. Nah, kalau berjalan ke dalam, ada sebuah sumur kering di bawah. Konon jika melempar koin, lalu make a wish, it'll come true. Karena ini gereja Portugis, jadi budaya atau mitos keberuntungan yang sering dilakukan bangsa eropa lama, mungkin terbawa. Sering dengar Fountain Trevi di Roma yang terkenal itu? Nah, mirip-mirip begitu mitosnya. Tapi sekarang sudah tidak diizinkan lagi, karena merusak warisan budaya
Pemandangan dari sebelah kiri bukit
Setelah selesai, kita bisa turun bukit melalui jalan sebelah kiri menuju A Famosa. Tahun 2015 lalu, pemandangan di bawah masih kosong, sekarang padet bengeet. Hotel dimana-mana. Bukitnya udah kalah tinggi. 

Menyusuri Komplek Museum di Melaka
Tiba di bawah, kita punya banyak pilihan. Bisa ke A Famosa atau Museum Istana Kesultanan Melayu Melaka. Tiket masuk Museum Istana Kesultanan Melayu Melaka RM 5.00 per adult. Bangunan museumnya seperti istana panggung yang terbuat dari kayu dengan arsitektur melayu yang kental. Kami skip museum ini. Katanya, di dalam istana ada maket yang menggambarkan Sultan dan pembesar istana yang sedang berkumpul, cerita pertempuran antara Hang Jebat dengan Hang Tuah dengan keris Taming Sari, koleksi tempat tidur  sultan dan koleksi pakaian resmi plus sehari-hari istana. Kalau punya banyak waktu, recommended untuk disinggahi. 
Inside A Famosa, 2015
Kami langsung menuju A Famosa. Karena ini gate, jadi tidak terlalu besar. Di dalamnya rapi dan bersih. Ada lorong pendek yang bagus buat foto. Instagramable, deh. Tapi lumayan ramai. Ada beberapa street artist juga di dalamnya.

Benteng A Famosa
Keluar dari A Famosa, banyak 'pakcik becak' menunggu. Kalau lelah, bisa istirahat sebentar atau berkeliling pakai becak. Sila, menawar harga. Di seberang A Famosa ada Museum Kemerdekaan Malaysia. Kami menuju ke sana #gratis. Catat.
Museum Kemerdekaan Malaysia
Gedung tua berlantai dua dengan gaya arsitektur eropa lama bercampur melayu. Di gedung ini tersimpan sejarah kemerdekaan Malaysia yang tertata cukup rapi dalam tema-tema khusus. Kalau suka sejarah, jangan lewatkan museum yang satu ini.

Setelah keluar, kami menuju Museum Samudera #lewatdoank. Kalau tidak salah, tiket masuknya RM 10.00, kayaknya sih bagus, karena ini baru direnovasi. Tidak jauh dari sana, ada kios souvenir dan tempat peminjaman sepeda. Kami berjalan terus ke arah red square. Nah, sepanjang perjalanan ini banyak sekali museum. Ada Melaka Islamic Museum (dekat dengan pintu naik ke St.Paul Hill), tiketnya sekitar RM 1.00 - 5.00. Sisanya Museum UMNO (United Malays National Organisation), Museum Setem Melaka a.k.a Museum Perangko, Museum Sastra, Museum Tentara Laut Diraja Malaysia dan masih ada beberapa. Lupa.

Hampir semuanya kami skip, karena sebagian tutup. Dua kali ke Melaka, rekomendasi saya ada lima. Museum Istana Kesultanan Melayu Melaka, Melaka Islamic Museum, Museum Kemerdekaan Malaysia (free), Museum Samudera dan Museum Setem Melaka (free). Itu  sudah cukup bikin betis pegel. 

Selesai mengunjungi Museum, kamu bisa melipir ((ngadem)) ke Mall Mahkota Parade. Pintu belakangnya berhadapan dengan jejeran Museum itu. Menara Taming Sari juga tak jauh dari sana. Melaka itu all in one, deh.
Sungai Melaka dari Bastion Middleburg
River Walk
Menjelang sore, suasana lebih teduh. Kami berjalan menuju tepi sungai Melaka. Duduk santai menikmati semilir angin sambil mengamati aktivitas wisatawan lain adalah favorite saya. Di sepanjang sungai juga banyak cafe. Kalau malam, semakin cantik. 

Tak jauh dari sini, ada Bastion Middleburg. Benteng peninggalan zaman Belanda. Benteng ini persis berada di tepi sungai Melaka. Naiklah ke atas benteng, kamu akan mendapatkan pemandangan yang lebih paripurna. 
Sungai Melaka
Saya melirik jam tangan, lalu menatap langit. Semburat jingga terlukis di sana. Selalu jatuh cinta dengannya, berkali-kali. Terlihat sama, namun berbeda. Mengadakan perjalanan adalah salah satu moment untuk saya menatapnya penuh, karena kerap terabaikan dengan hiruk pikuk kehidupan kota. Dia adalah senja, yang kerap membuat saya lebih jujur menelisik sudut-sudut ruang, bernama hati #apasiiih.

Saat maghrib tiba, kami melangkah menuju hotel untuk bersih-bersih dan sholat. Setelah itu bersiap untuk explore Jonker Street di malam hari. See you!

Next review on Escape KL, Keliling Melaka Part 3.

You Might Also Like

2 comments

  1. Wow, aku baru tau ternyata museum di sana banyak juga ya mbaa.. Seharian muter bisa gak ya ke semua museumnya? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dari pagi bisa, Mbak. Tapi museumnya terkadang sebagian tutup walaupun jadwalnya buka, hehe. Malaka bisa dijelajah full seharian, tinggal pake koyo malemnya... hehehe.

      Delete