Lets Glowing with Sunlight

November 11, 2017



If you are not willing to learn, no one can help you. 
If you determined to learn, no one can stop you.


Minggu lalu, saya mendapat whatsapp notification dari Mbak Wenny (komunitas TDA Depok). Sebuah invitation mengikuti workshop Ibu Bersinar Sunlight. Even, I'm not a mom yet. Bahagia sekali, bisa terus menggali ilmu untuk merunning bisnis kecil saya. Thanks ya, Mbak. Barakallahufikum.

Depok - Kuningan. It was only taken 30 minutes. Heaven. If  this happens every day, I would love to stay on my first-love-office in downtown Jakarta. Hahaha. Saturday morning, ditemani bincang hangat ibu kota bersama bapak driver yang ramah. By the way, bapaknya mirip RI-1. Serius. Kami harus mengakhiri tema lifestyle in downtown Jakarta, ketika mobil berhenti tepat di lobby hotel. Thank you, Pak. Semoga Allah berikan kesehatan dan keberkahan selalu.

Saya santai melangkah menuju ballroom, sambil melirik jam tangan. Pukul 07.55 WIB. Acara  akan dimulai sekitar 09.00 WIB. Eehhh taaapiii, antrian panjang registrasi, antusias  emak-emak dan kemeriahan gaya di setiap photo booth sukses membuat saya terpana. Seriously? udah penuh? jam segini?  Wow, luar biasa! Ketika anak muda merasa kalah. Kalah agresif. Haha. Baru kali ini seminar bareng emak-emak, heboh yak. Planning datang awal untuk cari kursi strategis dan fokus mendengarkan materi workshop, bubar jalan. 


lifelong learning

Senang rasanya bertemu para narasumber expert dan mompreneur yang ketjeh-ketjeh. Anda seperti berada di gelombang dan frekuensi yang sama. Klik. Ada Chef Ririn Marinka founder @marskitchen, Ria Miranda as a fashion designer, Zaskia Adya Mecca as an artist and entrepreneur, Kushandari Arfanidewi CO-Founder healthy catering @kelincitertidur, Martha Puri Natasande CO-Founder @idekuhandmade, Fifi Alvianto as family traveller and lifestyle blogger dan para trainer dari komunitas TDA.

Acara ini bagus sekali. Walaupun cukup disayangkan beberapa focus point lepas, karena terlalu banyak peserta yang menyebabkan workshop ini tidak 100% efektif. Pemaparan materi dan sharing hari itu membuat saya semakin realized, kalau waktu hampir setahun merunning bisnis kecil ini, benar-benar masih banyak homework yang harus dibenahi. Semakin banyak, tapi jadi tantangan tersendiri. Butuh partner #eehh. 

Ini acara apa, sih?
Jadi, Sunlight melalui  program "Ibu Bersinar Sunlight" menginspirasi sekaligus membantu perempuan Indonesia untuk mewujudkan mimpi melalui passion dan potensi yang dimiliki dengan memanfaatkan waktu luang. Launchingnya di bulan September lalu. Nah, hari ini adalah event lanjutan dengan tema "Kelas Usaha Ibu Bersinar". Ada kelas fashion, kuliner dan craft. Pilihan sesuai passion. Free charge, tapi undangannya almost via komunitas dan kompetisi foto. Kebetulan, saya mendapat undangan via komunitas. Alhamdulillah.

Wow, Free Workshop! Fasilitasnya apa?
Workshop ini kerjasama Sunlight, TDA dan MNCTV. Fasilitasnya fullday workshop. After sharing, kita mendapat pelatihan sesuai minat masing-masing. Di kelas peminatan, ada pendalaman materi, sharing sekaligus pembuatan kerangka bisnis UKM bersama narasumber dan trainer TDA. Di kelas saya, ada chef Ririn Marinka dan Mbak Margaretha Chrisna Sari owner @rendangdenlapeh. Coffe break dan lunch free. Selain itu ada goodie bag, doorprize dan voucher. Plus modal usaha 10.000.000 untuk satu proposal usaha terbaik yang di kirim ke Sunlight. Event ini, layak diapresiasi. 

Asyik banget! Materinya apa saja?
I'll share you eight points dari hasil workshop kemarin, ya. Summary, lebih tepatnya. 

PertamaBIG WHYSebelum memutuskan mengapa kita berbisnis, we should find our big why? Big why ini yang selanjutnya mengantarkan pada visi dan misi usaha yang kita jalankan. 

Kedua. Positive Mindset. How to manage positive mindset dari kegagalan, ketakutan, kecemasan, kerugian bahkan pandangan-sebelah-mata banyak orang  terhadap pilihan untuk berwirausaha dibandingkan bekerja sebagai pegawai kantoran di sebuah institusi. Lebih ke prestige dan kemananan financial, wajar sih. Tapi, itu tidak menjadi masalah besar, jika paham tujuan awal memutuskan terjun di dunia ini dengan segala resikonya. Jika ingin mendua antara karir dan wirausaha pun tidak masalah, you decide!. Walaupun terkadang, hasil setia dengan mendua itu berbeda #laaah.

unboxing the goodibag
Ketiga. Mompreneur STEP. Membuat kesepakatan dengan keluarga (suami dan anak), nah yang single enak, flexible! haha. Tetapkan jam kerja -disiplin memang sulit pemirsa. Tetapkan prioritas, suami dan anak tetap nomor satu. Ketahui dan akui batasan diri. Libatkan anggota keluarga dalam proses bisnis dan manfaatkan teknologi. 

Keempat. Entrepreneur Skills For. Bedah diri menjadi 6 bagian. Produksi, Sales, Marketing, RND, Finance, dan HRD. Banyak, yak! Tenang, semua narasumber keren di atas melakukan semuanya sendiri, sampai tiba masa bisa merekrut dan membuka lapangan kerja. Jerih payah memperjuangkan mimpi. Ria Miranda, designer muslim ternama, saat ini memiliki 70 pegawai. Di awal usahanya, dia memotong pola, menjahit, packing dan mengantar ke customer sendiri. So, jangan merasa sedih. Teman ada yang berceloteh "Kita sekolah tinggi-tinggi, ternyata kerjanya lakbanin plastik sama kerdus" #bwahaha. Padahal di kantor dan di sekolah juga kerjanya foto copy, ngelem sama gunting. Kita mah, anaknya emang nggak manja dan multitasking, sih. Blah!. 

Kelima. Pendalaman Produk. Masalah apa yang ingin dipecahkan dari produk yang kita keluarkan? Berbisnis berbeda dengan berdagang. Kita menciptakan produk. Solusi yang kita apa yang tawarkan? Siapa target konsumen dari produk kita? Perkecil segmentasi dan fokus. Pelajari produk pesaing. Apa unique selling point dan strategi marketing produk kita? Satu bidikan target konsumen yang spesifik tapi mendalam, lalu menjadi pemain terbaik, itu keren. Karena kita ada di level UKM, bukan industri besar. Tapi mimpi menjadi industri besar, tentu boleh. Nah, sampai di point ini, makin sadar deh... kalau kesalahan saya banyak bangeeettt #ahahaha. 

Keenam. Operasional-Produksi. Menghitung Harga Jual, HPP dan BEP. Sebagai lulusan akuntansi, harusnya tidak sulit menghitung ini bagi saya, pemirsa #noyorkepalasendiri. Tapi, kalau data survey minim, analisa dengan sumbu pendek (baca : malas berpikir), bisa dipastikan meleset hitungannya #terbukti. Kemudian merk, logo dan packaging sesuaikan dengan karakter produk kita. Daftarkan P-IRT, HKI dan MUI. Last but not least, buat Standard Operating Procedure dari setiap produk (bahan, alat, cara pembuatan hingga kemasan), pemasaran, administrasi dan lain-lain. SOP = SISTEM. Alat kontrol sebuah organisasi atau institusi sekecil apapun. Dengan SOP kita bisa mendeteksi kesalahan dengan cepat. Penting dan sangat membantu, meskipun usaha kita baru dirintis.

Ketujuh. Branding dan Strategi Menjaga Konsumen. Untuk branding, bukan fokus pada produk saja, tapi  mengedukasi dan membangun kesadaran konsumen. Kita tidak ingin membuat orang lain bermental konsumtif dan ketergantungan. Menginspirasi jauh lebih bermakna dari keuntungan materi. Example, kita punya bisnis catering sehat, bukan hanya makanannya yang kita branding, tapi edukasi tentang bagaimana mengolah makanan sehat-alami-tanpa MSG, kebutuhan nutrisi tubuh yang dibutuhkan, pola makan yang baik dan lain-lain. Hingga suatu saat konsumen terinspirasi membuat sendiri, artinya masalah satu orang terselesaikan, hingga begitu seterusnya. Menyelesaikan masalah, tanpa masalah. Terbayang bagaimana berdayanya Indonesia, dua puluh tahun yang akan datang. Next, strategi menjaga konsumen, bentuk sederhana adalah meminta feedback dari pelanggan (customer care) atau harga pembelian khusus. Ada hal yang sangat saya suka (sebagai konsumen) dari Sunlight untuk menjaga konsumennya yaitu dengan mengedukasi pasarnya melalui berbagai event. Karena sadar segmen pasarnya adalah para ibu, Sunlight melalui  program "Ibu Bersinar Sunlight" menginspirasi sekaligus membantu perempuan Indonesia untuk mewujudkan mimpi melalui passion dan potensi yang dimiliki. Jadi tidak hanya hadir menyelesaikan tumpukan cucian piring kotor di rumah, Sunlight juga menginspirasi para ibu menjadi lebih berdaya. Thank you, Sunlight!

Kedelapan. Berbisnislah dengan bahagia. Hiduplah dengan serius. Berdaya di diri dan negeri sendiri.

Wah, panjang ya. Sepanjang PR saya untuk usaha kecil ini. Oh iya, akan ada kelas online lanjutan. Untuk info lebih lanjut, sila searching di akun sosial media Sunlight, ya. Semoga bermanfaat. 

Thanks to Sunlight, narasumber, trainer TDA dan mompreneur for sharing. Spread knowledge. Spread Kindness. The last, thank you Mbak Anik Triyani, bumil cantik yang jago baking. Pertama kenalan sama-sama bengong karena nama belakang sama #pasaran. Haha.

You don't have to be great to start, but you have to start to be great. Let's glowing with our passion and uniqueness with sun... light!

You Might Also Like

0 comments