Delay & Drama di Bandara Sultan Hasanuddin

January 12, 2018



Setahun tidak bertemu setelah perjalanan panjang melintasi beberapa negara tahun lalu, Allah kembali mempertemukan saya dengan dr. Santi dan seorang sahabatnya, dr. Ita. Jadi, ini perjalanan semi backpacker bersama dua dokter cantik, sholehah, cerdas, humble dan single. Point terakhir penting, yak #ditoyor. Perjalanan ini adalah partly funded by sponsor, terus di-create sekalian jadi sebuah perjalanan panjang. Thanks to Mbak Ita, sering-sering libatkan saya #plaaak. Haha.

Rencananya, dari Makassar kami akan menyusuri Parepare, Enrekang dan Tana Toraja, lalu kembali dengan rute yang sama. Jarak yang ditempuh kira-kira 341,6 km via jalan Poros Barru. Jarak pulang pergi kira-kira 680 km. 

Meeting point langsung di hotel, karena jadwal flight kami berbeda. Tadinya, saya ambil jadwal flight terakhir. Tapi trauma kena macet berjam-jam di tol bandara menjelang long weekend dan terpaksa harus berlari-lari mengejar pesawat, hiks. Pesawat dikejar? Iyaaa..., soalnya ngejaar kamu nggak ketangkep teruuus ;p. Akhirnya, saya memilih flight sore, before office hour, lebih aman. Ternyata sama dengan jadwal pesawat Mbak Santi dan Mbak Ita yang transit di Soetta. Jadilah kita bertemu dan berangkat bareng.

Hello Captain!
Delay oh Delay
Ini pengalaman pertama kena delay kurang lebih empat jam. Pernah waktu di Laguindingan mau balik ke Manila, kena delay sejam karena cuaca. Mana pas turun pesawat, harus tiga kali naik turun shuttle bus ke Terminal 2, muter-muter dan makan waktu. Harapan meng-explore Ninoy Aquino pun kandas -hiks- karena harus terus berlari mengejar si Philippine Airlines buat balik ke Jakarta. Panita arrange tiketnya bukan connecting flight dan jadwalnya mepeettt abiiiss. Seru tapi deg-degan. Suka banget lari-lari di bandara, Mbak? Yah, daripada lari dari kenyataan #yhaa. 

Delay kali ini tanpa penjelasan detail. As usual, the red lion. Sejam masih sabar. Dua jam mulai kasak-kusuk. Tiga jam naik pitam. Empat jam brutal. Hihi. Kalau delay di Changi sih bisa ((mengamati)) para captain dan crew-nya yang berseliweran dari berbagai negara #ehmm. Istighfar, Mbak. Astagfirullah. Beruntungnya, agenda kami hari itu tidak banyak, jadi lebih santai. Mbak Santi dan Mbak Ita leyeh-leyeh di kursi. Saya dari awal tiba berbincang dengan seorang Ibu yang kebetulan staff sebuah sekolah menengah atas di Depok, tak disangka... ternyata beliau juga kenal dengan beberapa guru saya. Nostalgia, jadinya. Ibu ini lahir di Sidrap - Enrekang, jadilah kita ngobrol ngalor-ngidul. Bahagianya lagi, disangka seumuran sama anaknya yang masih kuliah #winkwink. Udah, iyain aja. Kelamaan menunggu, akhirnya bosan. Tapi entah kenapa tetap setia, itulaah wanitaa~ #lah.

Kurang lebih empat jam menunggu, akhirnya tersiar kabar bahagia... bahwa pesawat akan tiba sesaat lagi dan ada kompensasi snack untuk seluruh penumpang. Yeaaayy!  Sorak soraaiii bahagia. Appreciate. Kami buka donk. Pas dibuka... kami bertiga langsung liat-liatan terus ketawa ngakak. Beneran. Isinya satu gelas air mineral dan biskuaattt~. Biar kuat, menjalani tempaan hidup. Bukan tidak bersyukur, tapi ini mubazir kardusnya #tepokjidat. 

Tak habis sampai di situ, pemirsa. Di dalam pesawat banyak penumpang complaint. Seorang ibu berbicara sambil marah-marah, tidak terdengar begitu jelas kata-katanya karena semua orang bersuara. Pramugarinya pun tak bisa banyak bicara, diam... namun wajahnya menyiratkan pesan. Haha. Masih belum berhenti juga, hingga akhirnya sang captain pun turun tangan. Apakah itu Kapten Kuoda? #qeqeqe~. Ada yang minta Nasi Ayam pulaa, laper mungkin. Kalau bisa diinterpretasikan muka pramugarinya kayak gini nih "Ini maskapai LCC ya, kalau mau dapat kompensasi lebih... silakan naik yang lebih mahal". Hehe. Well, manajemennya memang harus diperbaiki, berbagai teguran sepertinya belum cukup membuat mereka berbenah diri untuk menunjukkan performa yang jauh lebih baik. Tapi, kita sebagai pengguna jasa... marah atau memaki juga tidak menyelesaikan masalah. Intinya, silakan memberikan masukan yang membangun, but we've to respect others first.

Alhamdulillah, selama perjalanan Jakarta -- Makassar tidak mengalami ganggunan sedikit pun. Mbak Santi dan Mbak Ita chit chat sama Om Bule #modus. Saya tidur karena lelaah~.

Drama di Bandara Sultan Hasanuddin
Setelah landing dan urus bagasi, kami keluar beli makanan untuk sahur Mba Ita (sholehah banget, dokter yang satu ini), terus pesan taksi online menuju hotel. Official driver baru pickup kami di hotel keesokan harinya. Kami anaknya mandiri, sih #wew. Nah, ada drama lucu di sini. Jadi, di Makassar sedang ada peristiwa gesekan antara taksi online dengan taksi bandara, konon parah kejadiannya, hingga banyak sekali polisi yang berpatroli di bandara. Sama seperti di Jakarta, tapi di Soetta saya belum pernah merasa kesulitan, karena fasilitas area untuk menunggu taksi online sudah disediakan. Di Makassar ini masih menjadi konflik, entah saat ini. Alhasil, untuk memesan harus pakai strategi dan drama kumbara. Saya kaget melihat supir taksi bandara yang super agresif menghampiri calon penumpang, meskipun sudah diusir oleh petugas keamanan bandara. Sangat tidak nyaman. 

Kami sempat bingung sama pintu keluarnya, karena muncul dari pintu samping. Lama tak berkunjung ke sini jadi lupa, haha. Mbak Santi dengan elegant dan santai mengambil jalan ke kiri. Saya lagi telepon-teleponan sama driver online-nya, ditariklah sama Mbak Ita untuk ikutin Mbak Santi sambil membungkam suara saya yang kenceng banget. Padahal driver-nya juga bilang "Jangan kenceng-kenceng suaranya, Mbak" #wkwkwk. Ketika sampai ujung -arah menjauh- dari supir taksi bandara, ada polisi yang berjaga, lalu bilang kalau kita salah jalan sambil menunjuk ke arah supir-supir yang ramai itu. Makin geliii... apalah ini, tiga wanita cekikikan di bandara. Niat hati menghindar, tapi ternyata salah jalan. Akhirnya mau tidak mau balik arah donk, ke arah di mana supir-supir agresif itu berkumpul. Padahal polisi banyak yaak, ini sopir masih agresif banget, mirip preman #ckckck. 

Pas kami lewat, sopirnya maksa-maksa. Sudah tengah malam pulaaak. Merasa terganggu, Mbak Santi langsung pakai jurus pamungkasnya a.k.a jutek + keluarlah logat Palembang punya (macam naga menyemburkan api, wkwk #dikeplak) "Kami lagi transit, mau ke Papua!" dan disautinlah sama Mbak Ita. Si sopir diam dengan wajah sedikit kaget, terus bilang "Ooh, kalau mau ke Papua jalan ke atas". Jalanlah kami ke atas, saya di belakang ketawa gelii. Babaat teruus, Mbak. Ini Palembang vs Makassar, man. Saya, nyerah. Banyak teman yang bilang saya juteknya kelas kakap, mereka tidak tahu... ada yang juteknya kelas dewaaa~. Ihihihihi.

Sampai di atas, saya dicontact lagi sama driver. Drama berlanjut, ini mirip kayak film-film agent Mission Impossible, gitu. Semestinya saya harus bersandiwara dari awal, karena driver-nya minta saya acting layaknya saudara sendiri. Hai bung, kita semua... dari Sabang sampai Merauke memang bersaudara, kan? ;p. Tapi ya karena saya oneng #zonk, jadi baru realized #haha. Terus udah terlanjur keceplosan bilang "Masnya, dimana?", ((mas)) ini Makassar cuy, bukan Yogya, hadeuuh. Daeng, panggilannya #noyorkepalasendiri. Jadi ketahuanlah bukan orang lokal. Sebenarnya saya noticed ada seseorang yang mengikuti dan mengamati, tapi karena doi bukan Agent Ethan Hunt #hyaa,  jadi cuekiin ajaa~. Mwuhehe.
Kalau begini, susah dicuekiin kaann~
Kami berjalan agak jauh, ke tempat parkir untuk naik mobil. Masnya keluar dari mobil dengan santai, terus bukain pintu mobil (baca : masukiin kopeer, haha). Orang yang mengikuti kami masih ada, mengamati sampai kami masuk ke mobil, mencatat nomor plat mobil dan menelisik wajah driver-nya. Harusnya saya lanjutin acting yak -sambil bergaya manja ala kids zaman now- terus bilang "Iiih, lama bangeett sih datengnya. Akutu lama nunggunya. Kamutu kemana aja, sih? Keseeel. Uwuwuwu~". I'm pretty sure... seketika itu Masnya langsung MUNTAH -ini indikasi ringan-. Kalau doi kagak kuat, ya langsung KOLAPS. Mwahahaha. Lalu harga diri saya pun hancuurr berkeping-keping. Yaa saalaam. Drama selesai.

Di dalam mobil, Masnya cerita tanpa diminta, sambil contact seseorang dan melaporkan semua kejadian, singkat dan padat. Weeww, mirip adegan Agent Ethan Hunt calling Agent Brandt di Rogue Nation. Ahahaha.

Pukul 24.00, tiga orang wanita, menyusuri kota Makassar tanpa mahram #ckckck. Jalanan masih sedikit ramai. Aman, insya AllahSatu lagi kejadian malam itu, orderan tercancel akibat kebodohan saya : HP belum di lock karena drama di bandara #tepokjidat. Maapp ya, Mas. Beruntung, orangnya baik. Coba kalau nggak, diturunin di tengah jalan, dah. Ya kaliii ketemu Agent Brandt, terus bilang "I'll drive you guys to the hotel" #plaak. Ngareep.
 Silakan naik, Mbak...
Don't take it seriously! Tapi, kalau yang nawarin model begini masa ditolak? ;p #mintadikeplak.  Honestly, saya lemah kalau dikasih model Tony Stark atau William Brandt #hyaa. Suka yang tua ya, Mbak? Bukan tua, tapi MATANG (acting-nya). Langsung kena iqob~

Setelah tiba di hotel, bersih-bersih dan sholat, kami bukan istirahat tapi justru mentertawakan semua peristiwa hari ini. Akhirnya Mba Ita memilih untuk sahur, karena pagi kita akan flight ke Papua! #ngikik. Apa kabar saya, kalau jadi ambil flight terakhir pakai red lion? bisa-bisa baru sampai saat orang-orang lagi lomba balap karung #gelenggelengkepala. Ini baru awal, dari sekian 'keseriusan' perjalanan kami di Makassar #qiqiqi.  Till next story. See, you!


You Might Also Like

0 comments