Melipir Ke Icon Kota Parepare

January 16, 2018

Kamis, 17 Agustus 2017. Disaat semua orang melaksanakan upacara hari kemerdekaan dengan khidmat, kami justru memanfaatkan waktu singkat ini dengan berkeliling hotel untuk hunting foto, hihi. Anak muda macam apa, ini? ;p

Semuanya sudah beres, kami bersiap melanjutkan perjalanan ke Bumi Massemrempulu. Setelah tragedi Delay dan Drama di Bandara Sultan Hasanuddin yang menguras tawa, betapa banyak kebaikan yang Allah berikan dalam perjalanan ini, kali ini bertemu dengan Pak Agus -driver sekaligus guide-  yang sangat baik, ramah dan sabar. Alhamdulillah

Di tengah perjalanan menuju Bumi Massemrempulu, kami melipir sejenak di Parepare. Parepare berjarak sekitar 150 km dari Makassar. Kota ini terkenal sebagai kota kelahiran Presiden ke-3 Republik Indonesia, Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie. Waktu tempuh sekitar tiga jam menggunakan mobil ke Parepare. Di sepanjang jalan melewati kota ini, terlihat hamparan pantai dan langit biru yang indah. Tak kan pernah lelah, jatuh cinta berkali-kali dengan keindahan yang Allah karuniakan untuk negeri ini.  
"Cinta tak berupa tatapan satu sama lain, tapi memandang keluar bersama, ke arah yang sama". 
Habibie - Ainun.
Monumen Cinta Sejati
Kami berhenti di sebuah monumen yang disebut-sebut sebagai icon kota ini. Monumen Cinta Sejati Habibie - Ainun. Terletak di Lapangan Andi Makkasau, Jl. Karaeng Burane, Mallusetasi, Parepare. Menemukan monumen ini lebih mudah daripada harus menemukan cinta sejati yang sebenarnya #jyaaah. 

Monumen ini diresmikan pada tanggal 25 Mei 2015. Dibangun untuk mengenang cinta Presiden ke-3 Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie kepada Alm. Hasri Ainun Besari, sekaligus kado di hari ulang tahun pernikahannya ke-53. Semua orang pun tahu, bagaimana kisah inspiratif perjalanan hidup mereka memberikan keteladanan jutaan insan di negeri ini.

Tepat di bagian belakang patung, ada puluhan foto Presiden Habibie dengan Ibu Ainun. Mulai dari foto masa kecil, saat menjadi Presiden RI dan kehidupannya  di Jerman. Kami tidak sempat ke bagian belakang monumen, keasyikan foto. Capturing landscape photo dengan langit biru yang menawan.

Bersyukur sekali area monumen ini bersih tanpa love lock atau wish lock. Biasanya kalau berbau cinta, langsung latah diberi area untuk menggantungkan gembok cinta. Sampai saat ini, masih belum makes sense kenapa cinta harus digembook~.

Dari tempat ini saya belajar bahwa a good relationship is when two people accept each other's past, support each other's present and encourage each other's future. Temukan seseorang yang selalu melibatkan Allah sebelum apapun, setelah itu menempatkan kamu (utuh bersama mimpi dan harapanmu)  lalu melebur dalam setiap jengkal visi dan misi kehidupannya #weewww. Then grow together, build together and achieve goals together meskipun harus berpijak di belahan bumi yang berbeda, laa ba'sa. Karena sejatinya ((kita)) memperjuangkan mimpi yang sama. At the end kebersamaan langkah dan mimpi itu memberi kebermanfaatan untuk sesama. Begitu. Awas, keselek bacanya, hahaha. Setelah ini ditimpuk rame-ramee, karena sotoy~.

Karena kami cuma melipir, jadi hanya sebentar. Buat kamu-kamu yang mau berkunjung ke Parepare, jangan lupa mampir ke sini, ya. Iya, kamu. Kamu yang sedang menjalani misi kehidupan ini #wink. Thank you for stopping by!

                                                          

You Might Also Like

2 comments

  1. Hallo mbak. Salam kenal ya, saya yosa.
    Mmmm jadi pengen melancong ini.
    Yang aku ingat kalo naek pesawat keluar dari pulau jawa, langitnya langsung kelihatan bedanya. Ah, nabung ah buat ke makassar dan mlipir ke pare pare. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Mbak Yosa, salam kenal juga. Iya, langitnya beda, mungkin langit Pula Jawa sudah lelah, hehehe. Ayo Mbak melancong ke sana!:)

      Delete