Buttu Macca, Must Visit Place in Enrekang

March 27, 2018

Setelah melipir ke Parepare, kami melintasi jalan raya poros Parepare – Rapang menuju Enrekang, meninggalkan terik dan birunya langit, kota kelahiran Presiden B.J Habibie. Sekitar kurang lebih tiga jam, kami tiba di Enrekang. Pemandangan berganti dengan hijaunya perbukitan yang memenuhi pandangan mata. Udaranya pun terasa sejuk. 

Sekilas tentang Enrekang
Sejak abad XIV, daerah ini disebut massenrempulu yang artinya meminggir gunung atau menyusur gunung. Sedangkan Enrekang berasal dari endeg yang artinya 'naik dari' atau 'panjat', dari sinilah asal mulanya sebutan Endekan. Nah, kalau dari Endekan ke Enrekang, saya tidak tahu ceritanya, haha. Hampir 85% wilayah kabupaten ini terdiri dari gunung dan bukit yang sambung menyambung, dari total luas wilayah sekitar  1.786.01 km².

Enrekang ini sering meraih berbagai penghargaan program Mandiri Energi maupun Mandiri Pangan. Mengenalnya ((pertama kali)) saat masih bertugas di Direktorat Energi Baru Terbarukan. Kabupaten ini cakap memanfaatkan energi baru terbarukan sebagai pemenuhan listrik di berbagai desa. Mulai PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro),  PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), sampai pemanfaatan biogas sebagai pengganti kompor minyak tanah. Yes, renewable energy is smart solution for better future! Saat ini, Enrekang juga sedang menggiatkan program agrobisnis berbasis ramah lingkungan. Ada yang mau memberi disposisi saya untuk bertugas di sini? *dengan senang hati*. Saya memiliki sebuah asa untuk bisa mengabdi di wilayah pedalaman Indonesia yang jauh akan hiruk pikuk kota. Semoga Allah mengizinkannya suatu saat nanti.

Potensi wisata Enrekang juga tidak kalah menarik dengan daerah lain, salah satu yang sangat terkenal adalah Gunung Nona (next, saya akan cerita tentang Gunung Nona ini, ya). Nah, belakangan ini ada tempat menarik yang menawarkan spot-spot lucu untuk menikmati pesona Gunung Nona, ditambah permainan ayunan ketapel yang katanya menguji adrenalin. Tempat ini sangat viral di sosial media. Namanya, Buttu Macca. Kami  pun tergelitik mengunjungi tempat yang satu ini #tumben, biasanya cari yang anti mainstream

Lokasi 
Terletak di Dusun Pulauan, Desa Bambapuang, Kecamatan Anggereja. Berjarak 15 km dari Kota Enrekang, sekitar 245 km dari Makassar. Untuk tiba di lokasi ini, kita hanya perlu melewati jalan poros Enrekang-Toraja. Tempatnya hanya berjarak 500 meter dari penginapan Villa Bambapuang. Mobil kami pun berhenti di lokasi parkir. Kami tidak pakai GPS, karena Pak Agus sudah hafal daerah ini. Kalau lupa-lupa sedikit, tinggal bertanya dengan masyarakat sekitar.

Nah, kalau dari Makassar dan tidak menggunakan kendaraan pribadi, kamu bisa naik bus Makassar – Enrekang. Selanjutnya menuju obyek wisata Bambapuang di Kecamatan Anggeraja, atau bisa menyewa motor. Tapi saran saya, pergi berkelompok dengan menyewa mobil adalah solusi terbaik, karena bisa share cost. Semakin banyak orang pastinya semakin murah. Hemat.

Tiket Masuk 
Hanya perlu berjalan naik-turun sejauh 200-300 meter untuk tiba di pintu masuk Buttu Macca. Tiket masuknya 5.000/orang saja, ditambah extra senyuman dari penjaga loketnya #hyaaa. 

Baru berhenti di spot pertama, kami sudah tersihir menatap permadani hijau dan gemericik sungai yang terbentang di depan mata. Masya Allah, cantik sekali. 
happinest is just sitting queitly and thinking...
taken by shantie_syifa
Membiarkan mata, hati dan pikiran mencerna semuanya. Membiarkan hembusan angin menepuk wajah dan sinar matahari menerpa kulit. Membiarkan waktu terus berjalan, tanpa resah. Aaah, rasanya tidak akan bosan berlama-lama duduk di tempat ini, meskipun sendiri. Haha. 

Hunting Foto
Saat memulai hunting, kami tersadar kalau beberapa property ketinggalan di mobil. Property? Iya, saya belajar dari Mbak Santi, untuk mengambil foto yang bagus dan berkualitas, bukan hanya skill dan kamera, tapi property juga perlu. Dan..., bukan Mbak Santi namanya, jika tanpa totalitas. Dokter tangguh ini balik ke tempat parkir untuk mengambil property, berjalan naik-turun melewati lembah demi feed  Instagram dan profesionalitas #ditoyor. Haha. Apalagi modelnya udah ketjeh badai, tinggal di-shot. 

Niat tulus, berbalas ketulusan juga. Saat itu Mas Penjaga di depan, berbaik hati menawarkan tumpangan. Mbak Santi pun menyambut dengan wajah sumringah. Ketika dibayar... Masnya hanya meminta 10.000 saja. Dikasih lebih pun tidak mau. Makin sumringahlah dokter yang satu ini #ngakak. Terima kasih ya, Mas. Percayalah, di tengah ibu kota, kita jarang menemukan orang-orang seperti ini.

Di sini, berbagai spot foto kekinian bisa kamu dapatkan. Mau model apa juga ada, semuanya bagus... kecuali spot berbentuk love. Karena, hasil fotonya jadi kayak di taman instead of di gunung, hihi. Kalau Mbak Ita baca, dijitak, nih. Ada juga permainan ayunan ketapel yang menantang, kamu bisa mengayun nyali di atas ketinggian dalam permainan ini. Berani? sayangnya, saat kami datang, spot ini sedang tidak beroperasi. Sedih. Tiketnya  murah, hanya sekitar 15.000, kalau tidak salah. Kalau jatuh, ya ke bawah... :p. Insya Allah, aman. 

Well, I must say, this place  is really instagrammable!. Recommended, buat yang suka hunting foto. Dengan tiket yang affordable banget, kita bisa explore banyak spot, sampai pegel! Tapi jangan lupa menjaga attitude dan kebersihan, ya. Penting. Beruntungnya lagi, suasana hari itu sepi, padahal long weekend. Hanya ada beberapa traveller yang sedang asyik berfoto.
sometimes, you just need a break... in a beautiful place to figure everything out 
taken by shantie_syifa
Rehat Sejenak 
Hamparan bukit, gemericik sungai, desiran angin dan kicauan burung, berkolaborasi apik menghasilkan sebuah symphoni, indah, mendamaikan hati. Ketika mentafakuri alam, mampu mengikis 'korosi hati' akibat reaksi redoks antara idealisme dengan 'senyawa-senyawa duniawi' yang merusak. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? 
live fast, fly high, be free...
Ah, rasanya ingin sekali melompat dan berguling-guling sampai bawah, tapi sayang tebingnya curam dan terjal #ciut. Cukuplah hati ini yang terluka, tak perlu menambah luka yang lain, hahaha.
Indonesia itu bukan hasil maupun akhir , dia adalah proses. Sebuah proses panjang menuju negara besar. Maka, mencintainya pun tidak pernah ada titik dan kata lelah.  Dirgahayu negeriku!
Tak terasa waktu kian beranjak sore, ditambah awan commulusnibus  bergelayut manja di langit Enrekang. Benar saja, tak lama kemudian rintik hujan jatuh membasahi bumi. Ah, enggan rasanya beranjak dari tempat ini, tapi kami terpaksa mengakhiri, lalu kembali ke mobil untuk melanjutkan petualangan ke Tana Toraja.

Bagi saya, tempat ini seperti mempertemukan alam dengan ide sederhana yang luar biasa. Terima kasih untuk pengelola Buttu Macca. You're cool, guys! Semoga destinasi wisata ini bisa dikelola lebih profesional dan meningkatkan perekonomian warga lokal. Hidup travelpreneur!.

Teman, tempat ini terlalu indah dilewatkan, jika kamu berkunjung ke Enrekang. Atau kalau kamu punya rencana ke Tana Toraja, bisa sekalian mampir ke Buttu Macca, rutenya searah. Dijamin kamu tidak akan menyesal! So, happy traveling guys and don't forget, safety first!


Next story on Dangke!

You Might Also Like

4 comments

  1. Masha Allah, rasanya Indonesia itu gak habis-habisnya pemandangan bak surga dunia bertebaran.

    Makin cinta Indonesiaku 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, benar Mbak. Rasanya kalau dizinkan bertahun-tahun menjelajah Ibu Pertiwi pun tidak akan pernah cukup..., saking kayanya Indonesia.

      Delete
  2. Ya Allah, cakep banget mba. Alami dan instagrammable. Damai banget rasanya berada dekat alam begini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget Mbak. Damai jauh dari hiruk pikuk kota dan fasilitas jalan menuju ke sana juga bagus.

      Delete