Dangke!

March 28, 2018

"Danke... Danke" teriak Mbak Ita dengan mata berbinar. Sontak membuat kami semua berpaling, termasuk Pak Agus yang lagi asyik menyupir. Danke? she speaks Deutschland? oh, berarti ada bule Deutschland, nih. Doi disenyumin kalii, terus bilang danke. Mana bulenya? #pikirsaya. Celingak celinguk, cari di sepanjang jalan, nihil. Tapi, Mbak Ita masih bilang "danke... danke"

"Apaan, Mbak?" tanya saya. 
"Danke!."
"Mana (bulenya)?." Penasaran.
"Itu, dibungkus daun pisang." 
"Hah?." Bule, dibungkus daun pisang? *mikir*. 
"Pak, berhenti sebentar, ya." seru Mbak Ita. Pak Agus langsung sigap ambil kiri, lalu memundurkan mobil untuk mendekat ke kedai-kedai kecil di pinggir jalan. Kalau di Jakarta, beliau tidak akan bisa melakukan ini, bisa diklaksonin orang se-RT, hehe.
"Danke."  Lirih saya, sambil menatap kedai dan mencari-cari jawaban.
"Keju Enrekang, beli buat oleh-oleh sekalian."
"..." Mikir. Issh, kirain ada bule Jerman main ke Enrekang. Padahal kalau ganteng udah siap-siap mau tanya "Wie heissen Sie? Wo wohnen Sie?" #plak. Yakin tuh, bahasa Jerman? Cina, mereun. Haha.
Dangke Enrekang by @khasenrekang
Kami pun turun menuju kedai-kedai yang menjajakan dangke, makanan khas tradisional Enrekang. Banyak orang bertanya "dangke itu apa, sih?".  All right, saya ceritain tapi kamu jangan tidur, ya!

Asal Mula
Dangke adalah keju khas dari Enrekang yang mostly terbuat dari susu kerbau, ada juga yang dari susu sapi. Makanan ini mulai dikenal sejak zaman Belanda. Konon, dinamakan dangkekarena saat itu ada seorang pastor berkebangsaan Jerman yang mengucapkan danke saat ditawarin makan keju ini. Hmm, kalau yang ditawarin orang arab, nama kejunya jadi syukron~ #maksa. Nah, dangke ini sudah menjadi hak patennya Enrekang, jadi daerah lain tidak bisa menggunakannya.

Cara Membuat
Keju tradisional ini dibuat dengan merebus campuran susu kerbau, garam, dan sedikit getah buah pepaya. Getah pepaya mengandung enzim papain yang berfungsi memisahkan protein dengan air. Hasil rebusannya kemudian disaring, dibuang airnya, lalu dicetak ke dalam batok kelapa. Setelah dingin dan memadat, dikeluarkan dari cetakan dan dibungkus daun pisang. Ada juga yang menggunakan nanas untuk membuat rasa dangke menjadi agak masam dan berefek kekuningan pada bongkahannya. Satu bongkah dangke setara dengan 2 liter susu segar, wow!. Konon, pesona keju ini sudah sampai ke luar negeri. Harganya sekitar 20.000/biji, seukuran bongkahan batok kelapa. 

Rasa, Aroma dan Tekstur
Aroma fermentasi dari keju ini kuat sekali. Rasanya gurih. Teksturnya mirip dengan tahu, tapi lebih padat. Penduduk Enrekang biasa menyajikannya dengan dibakar, dipanggang atau digoreng lalu disantap dengan nasi. Saya mengaplikasikan keju ini untuk membuat gluten free kastangels, hasilnya not bad!. Untuk resepnya sila diklik di sini.

Kripik Dangke
Setelah bertanya dan berbincang tentang dangke dengan warga setempat, mata kami tertuju pada deretan kripik yang diletakan dalam etalase sederhana. Ternyata, itu keripik dangke. Rasanya, enak. Buat saya, yang tidak terlalu suka susu, ini lebih soft. Kripik ini dibuat dari campuran  tepung beras, keju dangke, garam, gula dan rempah-rempah lain. Setelah jadi adonan kalis, didiamkan di lemari es, lalu dipotong tipis dan dijemur. Kalau sudah kering, digoreng lalu disajikan. Katanya, kripik ini juga bermacam-macam rasanya, ada original, manis atau pedas. Kalau di sini, adanya original saja. 

Saat kembali ke Makassar kami mampir kembali ke kedai ini, untuk kedua kalinya. Beli kripik lagi, hahaha. Pak Agus sih udah kebal, kalau kami minta berhenti tanpa rencana, atau aba-aba mendadak, hihihi. 

Dangke ini recommended untuk dijadikan buah tangan. Bisa bertahan sebulan jika disimpan dalam lemari es. Karena kami membeli langsung dari penduduk lokal, jadi hanya dibungkus dengan daun pisang tanpa plastik kedap udara, untungnya di penginapan ada kulkas, sehingga membuat si dangke tetap bertahan, walau ujian menerpa #blah. Untuk perjalanan jauh, lebih baik mencari kemasan yang kedap udara, ya. 

Beberapa teman bertanya "keju ini hanya bisa didapatkan di Enrekang, saja?", tentu tidak. Dangke dan kripiknya ini bisa kamu dapatkan dengan mudah tanpa harus menginjakkan kaki ke Enrekang. Dikirim dengan jasa ekpedisi, lalu tiba dengan selamat di rumahmu. Bagaimana caranya? Silakan mengunjungi @khasenrekang untuk informasi detailnya. Tidak perlu khawatir untuk bisa mencicipi makanan khas nusantara, walaupun terpisah ratusan ribuan kilometer jauhnya. Distance means so little, when technology means so much. Jadi, nggak masalah dong kalau harus LDR-an? #hyaaa.

See you, on the next story!

You Might Also Like

6 comments

  1. Iya mba gak masalah walau LDR an, bule jerman berbalut pisang masih bisa dikirim lewat ekspedisi #eh - danke y mba baru tahu ada makanan jenis ini hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi..., bitte schön Mbak Mega :). Ide bagus tuh Mbak, nanti ditanya deh, bule Jerman berbalut daun pisangnya ready stock atau tidak... hahaha.

      Delete
  2. Jadi penasaran, kayaknya dangke nya enak tu..pesan dari Medan bisa gak ya. Makasih infonya mbak

    ReplyDelete
  3. Wahahaha, nggak kebayang kalau dulunya keju ini fix dinamakan keju Syukron :)) Duh, jadi penasaran sama rasanya deh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. Rasanya seperti susu kerbau, Mbak. Tapi kalau bahan bakunya susu sapi, baunya tidak terlalu strong.

      Delete