Jelajah Toraja Bersama Skyscanner

April 10, 2018

Membuat Itinerary dan Eksekusi Tiket Pesawat Bersama Skyscanner
better to see something once...
than to hear about it a thousand times...

Tana Toraja. Siapa yang tidak mengenalnya? Kabupaten di Sulawesi Selatan yang namanya begitu mendunia dan lekat di telinga... sejak saya duduk di bangku SD. Eh, kamu juga, kan? haha. Wish list untuk pergi ke tanah to riaja (dalam bahasa bugis berarti orang yang berdiam di negeri atas) akhirnya terwujud, saat beberapa bulan lalu saya ditawari seorang sahabat untuk meng-explore Makassar - Tana Toraja. Well, let's collect moments! 

Karena waktunya mendadak, maka kami pun bergerak cepat, mengeksekusi tiket pesawat dan membuat itinerary perjalanan. Untungnya, ada Skyscanner yang selalu menjadi aplikasi andalan untuk membandingkan semua pilihan penawaran tiket pesawat termurah. Ah, dambaan traveler, deh!

Great, Simple and Trusted
Kalau ditanya partner terbaik dan terpercaya untuk arrange rencana perjalanan, jawaban saya adalah Skyscanner, setelah itu... ya kamu #yhaa. Aplikasi ini dibuat untuk mencari penawaran tiket pesawat terbaik dengan sangat mudah. Very usefull! Berbagai maskapai penerbangan, hotel dan rental mobil dari dalam dan luar negeri dengan harga termurah bisa kamu dapatkan di mesin pencari ini, saves your time!

Simple. Kita bisa melakukan pencarian langsung hanya dengan sekali klik di www.skyscanner.co.id atau mendownload aplikasi Skyscanner secara gratis di playstore atau appstore.

Aplikasi Skyscanner via Smartphone

Pilih perjalanan (pulang-pergi atau sekali jalan), terminal keberangkatan, terminal kedatangan, tanggal keberangkatan, tanggal kepulangan, jumlah penumpang dan kelas penerbangan yang kita inginkan. Lalu, tekan icon search

Sort dan Filter
Gunakan Sort dan Filter untuk menemukan harga, waktu, rute pemberhentian dan maskapai penerbangan sesuai keinginan kita. 

Ilustrasi Hasil Pencarian Tiket Pesawat Garuda Indonesia
Setelah itu, akan muncul maskapai pilihan dengan berbagai penawaran, dari situs resmi maskapai maupun agent tour yang bekerjasama dengan Skyscanner. Wow, bisa search  Tiket Pesawat Garuda Indonesia juga di aplikasi ini? yup!. Buat kamu yang suka cari promo Tiket Pesawat Garuda Indonesia, di Skyscanner juga bisa. Caranya bagaimana? kita bisa memanfaatkan berbagai fitur yang ada di Skyscanner, salah satunya Price Alert. Apa, tuh? Price Alert akan otomatis membantu cek harga secara berkala pada rute yang kita setting. Ini bermanfaat sekali, jika kamu merencanakan perjalanan dari jauh-jauh hari. Saat harga turun, sikat! haha. Bisa juga mengecek halaman Skyscanner setiap hari atau mendaftarkan alamat surel untuk berlangganan newsletter Skyscanner, secara otomatis promo Tiket Pesawat Garuda Indonesia akan kamu dapatkan setiap saat. So helpful, ya!. Gratis, terpercaya, menghemat waktu dan uang kita. Ah, tunggu apalagi?  Rencanakan perjalananmu sekarang juga!

Urusan tiket, itinerary dan hotel selesai. Well, let's go, then!

Collect Great Moments in Tana Toraja
Kami bertolak dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Sultan Hassanudin, Makassar. Dibutuhkan waktu sekitar delapan jam untuk tiba di Tana Toraja dari Makassar dengan mobil.

Bukit Bukit yang Tertutup Awan di Lolai
Setelah beristirahat di hotel, pukul 03.00 dini hari kami berangkat menuju destinasi pertama. Namanya, Lolai. Tempat yang mendapatkan julukan 'negeri di atas awan' ini berada di ketinggian 1.300 mdpl. Di Lolai, kita bisa melihat gundukan awan putih yang mempesona dan menikmati sunrise. Sayangnya, saat itu cuaca sedang mendung, jadi sunrise-nya tidak terlihat. Tapi, tidak mengurangi keindahan Lolai yang sangat dingin pagi itu.

Kete Kesu
Turun dari Lolai, kami menuju Kete Kesu. Desa wisata yang terletak 4 kilometer di bagian tenggara Rantepao. Area Kete Kesu ini dikelilingi persawahan. Di dalamnya terdiri dari 8 Tongkongan dan sekitar 12 lumbung padi. Sebagian Tongkongan yang terletak di sini diperkirakan berumur sekitar 400 tahun. Masya Allah. Kayu-kayunya masih kokoh, ukirannya masih apik, terlihat terawat sekali. 

Kubur Batu
Di dalam area Kete Kesu terdapat peninggalan purbakala berupa kuburan batu, yang diperkirakan berusia sekitar 700 tahun. Bentuk kubur batu ini menyerupai sampan, di dalamnya tersimpan sisa-sisa tengkorak dan tulang manusia. Hampir semua kubur batu diletakkan menggantung di tebing atau gua. Inilah salah satu keunikan budaya Tana Toraja. Takjub!

Buntu Pune
Kami melanjutkan perjalan ke Buntu Pune. Sebuah desa yang ada sejak abad ke-19 akhir. Berlokasi 3 kilometer ke selatan dari Rantepao. Desa ini terkenal dengan dua Tongkonan besar, letaknya di seberang keempat tongkongan itu. Niat hati ingin mengambil gambar dua tongkongan yang konon masuk kategori purbakala dari atas bukit, tapi apa daya, karena jalan setapak sisi kiri bukitnya curam dan licin, kami pun urung. 

Tempat ini lebih tenang, tidak seramai Kete Kesu. Tidak dikenakan biaya apapun untuk masuk ke sini. Pemandunya seorang wanita, ramah dan detail menjelaskan tentang sejarah Buntu Pune. Beliau ditugaskan dari Kementerian Pariwisata untuk menjaga warisan budaya ini. Selalu kagum dengan sosok-sosok seperti ini, yang meninggalkan semua gegap gempita kota lalu mengabdi di sebuah desa untuk melestarikan kearifan budaya lokal dan menjaga warisan budaya bangsa. Semoga Allah merahmati beliau dan semoga suatu saat saya bisa mengikuti jejaknya, memberi kontribusi untuk bumi pertiwi.

Inside Goa Londa by Daeng Sampe
Perjalanan dilanjutkan ke Goa Londa. Goa yang namanya sudah tersohor di penjuru dunia. Memasuki kawasan Londa kita akan disambut sebuah gapura yang dipenuhi ukiran khas Toraja. Ada beberapa anak tangga yang harus dturuni untuk sampai di goa ini. Kawasan wisata ini cukup ramai oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, jadi kita tidak perlu takut. Saat memasuki Goa Londa kita akan menjumpai berbagai peti jenazah. Di setiap sudut goa terlihat peti yang diletakkan secara bertumpuk-tumpuk. Di sekitar peti bisa kita temukan botol minuman, tumpukan batang rokok, sirih, bahkan pakaian. Karena orang-orang yang sudah meninggal di sini, diperlakukan layaknya seperti masih hidup. Di Londa, kami mendapat pemandu yang sangat baik, namanya Daeng Sampe. Penjelasaannya singkat dan padat. Beliau selalu menjawab semua pertanyaan kami dengan sangat memuaskan, dan foto di atas adalah hasil paksaannya, hahaha. Itu di sekelilingnya peti, tengkorak dan tulang-tulang manusia, ya.

Karena waktu sudah menjelang sore, kami harus kembali ke Rantepao. Lucky us, di tengah perjalanan kami bertemu kerbau merah jambu khas toraja, konon harga sapi ini mencapai1 Milyar. Wow!

Kerbau Merah Jambu Mamak Berlin
Pak Agus mendadak menghentikan mobil di tengah jalan, saat kami meminta berfoto dengan sapi mahal ini, haha. Satu dari banyak hal yang membuat saya jatuh cinta dengan Tana Toraja adalah keramahan masyarakatnya. Genuine. Mamak Berlin, pemilik sapi ini dengan senang hati mengizinkan kami berfoto dengan sapinya. Bahkan, bercerita banyak di tengah jalan. Iya, di tengah jalan!. Percayakah kamu, selama mobil kami berhenti di jalan yang sempit itu, tidak ada yang membunyikan klakson, padahal ada beberapa mobil dan motor yang ingin lewat juga. Mereka justru ikut tertawa melihat tingkah laku dan kebahagiaan kami. Ah, jadi terharu.

Perjalanan yang tak akan terlupakan. Mendengarkan Pak Agus bercerita tentang Tana Toraja di sepanjang perjalanan, berteman hujan dan dingin, dorong-dorongan masuk Kuburan Batu dan Goa Londa (tetep saya yang jadi korban, haha), bertemu Mamak Berlin, memaknai keberagaman, melihat tawa kebahagiaan anak-anak toraja melangkah mantap ke sekolah walau hujan & kabut tebal menerpa, sampai penjelasan sejarah Londa yang sangat berharga dari Daeng Sampe. Semuanya mengukir kenangan yang indah. 

Ketika menjelajah nusantara, selalu membuat kita sadar betapa indahnya Indonesia. Ah, tak akan pernah lelah mencintaimu... duhai negeriku!. 

Thank you, Skyscanner, yang membuat urusan tiket pesawat menjadi jauh lebih mudah. Yuk, tunggu apalagi? Jelajahi nusantara bersama Skyscanner! Dijamin, kamu tidak akan pernah menyesal!.






Disclaimer
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

You Might Also Like

9 comments

  1. aku pengen banget ngeliat rumah khas toraja yang sangat indah kak, wah seru banget kayaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus Mas Joe, once in our life, tapi harapannya bisa berkali-kali, hehe. Aamiin.

      Delete
  2. termasuk impian ke sanaaaa, suak lihat rumah adatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, di Buntu Pune kita masuk ke dalam rumah adatnya, Mbak :).

      Delete
  3. serem gak? aku sih membayangkan deket2 tengkorak dan kuburan bakal merinding kayaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau merinding pasti Mbak, hahaha... awalnya lumayan serem (karena kami belum terbiasa), tapi setelah belajar budaya di sana yang hidup berdampingan dengan orang yang sudah meninggal, lama-lama cukup terbiasa :p

      Delete
  4. Foto-fotonya keren banget. Itu masih 8 jam darat dari makassar ya? Jauh juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa pakai pesawat Mas, langsung ke bandara di Tana Toraja
      iya jauh... untungnya tanpa macet :)), kemarin sekalian melipir ke Pare Pare dan Enrekang, jadi perjalanan pun tak terasa jauh... #jyaah

      Delete
  5. Mba, mau tanya pas ke Toraja itu sewa mobil sendiri atau gimana yah? Rencananya nanti mau ke sana jd lg cari2 refrensi hehehehe

    ReplyDelete