Perempuan : Keluarga atau Mengejar Mimpi

May 02, 2018



Some of us let these dreams die, but others nourish and protect them, nurse them through bad days till they bring them to the sunshine and light which comes always those who sincerely hope that their dreams will come true (W.Wilson)


"Perempuan itu sarjana juga sudah cukup, tidak perlu kuliah S2 apalagi di luar negeri. Kerja, nikah, terus punya anak. Kalau kamu S2, laki-laki akan minder dan susah dapat jodoh." Itu perkataan Ibu, saat beberapa tahun lalu saya mengutarakan keinginan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Padahal sampai sekarang saya juga belum menikah, hahaha.

Rasanya sedih, karena supporting system utama tidak mendukung. Bapak juga hanya diam, tanpa komentar. Benar kata Mbak Elis Indrawati, salah satu awardee Australian Development Scholarship sekaligus salah satu penulis di buku Neng Koala, jika masih banyak anggapan perempuan yang berpendidikan tinggi, otomatis statusnya menjadi lebih tinggi dan konon membuat para lelaki terluka harga dirinya bila mendapati pasangannya lebih darinya. Orang tua saya, salah satunya.  

Melanjutkan sekolah bagi perempuan tidak ada hubungannya dengan berkompetisi dengan laki-laki, ini lebih pada men-challenge diri melawan ketakutan, keluar dari zona nyaman yang selama ini hanya berani bermimpi tanpa realisasi. Selain kecintaan pada ilmu dan ingin berbagi lebih dari apa yang sudah dimiliki. Bukan untuk diri sendiri, tapi untuk kebermanfaatan terhadap sesama.

Komentar lain pun kerap bermunculan "Kalau jauh di luar negeri dan terjadi sesuatu dengan orang tua, bagaimana? kamu yakin tidak akan menyesal?." Saya mendadak diam saat itu. Judgement secara tidak langsung sebagai anak yang tidak berbakti dan peduli dengan kedua orang tua cukup membuat batu bata mimpi yang dibangun runtuh, meskipun tidak hancur berkeping-keping, haha. Pada akhirnya saya melepas kesempatan untuk mendapatkan partial scholarship di Korea Selatan. Iya, baru partial, yang mungkin jika diusahakan lebih keras bisa mendapat lebih. Tapi saya urung memperjuangkan itu. Ada hal yang saya lupa, bahwa Allah adalah sebaik-baik penjaga. Allah akan menjaga orang-orang terkasih saya, lebih baik dari siapapun. Bahkan, ada atau tidak ada saya. Saat itu, tanpa sadar saya merasa menjadi Tuhan atas kekhawatiran yang belum terjadi.

Hingga kemudian lampu hijau menyala dari Bapak, untuk melanjutkan S2. Ibu, bagaimana? belum sepenuhnya, haha. Untuk dana, jelas tidak ingin merepotkan siapapun, karena memang bertekad untuk masuk dengan jalur beasiswa. Walaupun saya harus meringis, karena biaya jasa penerjemah beragam berkas administrasi, tes TOEFL beberapa kali cukup menguras kantong, lumayan kan kalau dibuat beli tiket traveling, haha #toyorkepalasendiri. Itu baru TOEFL, belum tes IELTS yang harganya sukses bikin gigit  jari, haha. Kalau gagal, ya pasti nyesek, hahaha.

Lalu, saya kembali ditampar bolak balik, saat membaca perjalanan Mama Frederika Korain dari Papua tentang perjuangannya untuk belajar bahasa Inggris dan tes IELTS dalam keadaan hamil besar. Dari Papua, Mama Frederika terbang menuju Bali untuk mengikuti kelas intensif bahasa inggris yang didapatkan Pemerintah Provinsi Papua. Allah memang Maha Adil, usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Mama Frederika pun berhasil mendapatkan nilai sesuai persyaratan dan beasiswa ADS. Saya malu, dengan status masih single ini sudah merasa bekerja dari pagi hingga sore sangat melelahkan. Komitmen untuk rajin meningkatkan nilai TOEFL/IELTS yang semakin tinggi dan ketat di berbagai persyaratan beasiswa yang saya bidik pun menguap dengan suskes dengan hiruk-pikuk dan tumpukan pekerjaan yang tiada berujung.  Bahkan ketika diberi waktu lengang pun, berakhir dengan kesia-siaan dengan beragam excuses. Iya, excuses. Dan, saya pun bertanya kepada diri sendiri, sampai kapan mau excuses terus? sedangkan orang lain berjuang tanpa dalih melawan keterbatasannya, bahkan kodisinya lebih sulit daripada kamu? Saya merasa sedang tidak benar-benar memperjuangkan mimpi. Pejuang seperti ini, ditenggelamkan saja ;p.

Buku dengan cover manis ini benar-benar berisi tulisan yang sangat kaya akan inspirasi dari para perempuan tangguh yang luar biasa berpetualang mencari ilmu, menghadapi berbagai kondisi dan keterbatasan tanpa keluh dan kesah. Masih ada cerita perjalanan 32 perempuan hebat lainnya ketika mereka menempuh pendidikan di Australia. Indonesia bangga memiliki mereka. Neng Koala ini mengikis sejuta kekhawatiran para perempuan pemburu beasiwa dengan berbagai keterbatasan khususnya bagi yang sudah menikah dan memiliki anak,  bahkan penyandang disabilitas seperti Mbak Cucu untuk selalu percaya dan optimis mewujudkan cita-citanya tanpa lupa kodratnya sebagai sejatinya seorang perempuan.

Benar kata Mbak Wardah Fajri, penulis dan pendiri Blogger Crony Community, ini bukan masalah ambisi tapi menjadi agen perubahan, untuk keluarga dan masyarakat. 

Cerita ini dituangkan bukan diperuntukan bagi perempuan saja, tapi juga untuk lelaki, suami, adik-kakak orang tua bahkan instansi atau perusahaan, untuk memberikan support terbaik dan membukakan pintu bagi para perempuan yang ingin mewujudkan cita-citanya. Agar perempuan tidak perlu memilih dan dibenturkan antara keinginan mengejar mimpi menggapai cita atau kecintaan kepada keluarga. Seperti kata Mbak Kanti Pratiwi, setiap kebaikan yang dicapai oleh perempuan, berarti kebaikan untuk peradaban. You educate a woman, you educate a generation. 

Highly recommended untuk para scholarship hunter! 

You Might Also Like

4 comments

  1. Ayo mba semangat kejar beasiswanya. Hapus excusenya ya. Ambil semangatnya dari neng Frederika.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mbak Nurul :). Mohon do'anya.

      Delete
  2. Saat ini sekolah tinggi bukan cuma buat cari jembatan dapat kerja, tapi tuntutan sebagai orang tua. Kalau ibunya cuma bisa baca tulis, gimana bisa amat in anaknya dimana generasi milenial saat ini PAUD saja sudah tinggi daya nalar dan pikirnya

    ReplyDelete